Sabtu, 19 November 2011

Positivisme - Auguste Comte

Salah satu tokoh terkemuka dari filsafat positivisme adalah Comte yang pemikirannya berkembang pesat pada sekitar abad ke-19. Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah “The Course of Positive Philosophy”. Atas karyanya ini Comte dipandang sebagai Bapak Positivisme. Positivisme menurut Comte adalah penerapan metode empiris dan ilmiah pada setiap lapangan penelitian. Sarana yang dapat digunakan untuk pengkajian ilmiah adalah pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode historis. Positivisme bertumpu pada paham bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan hanya fakta-fakta yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan. Positivisme menolak segala penggunaan metode di luar yang digunakan untuk menelaah fakta (Upe, 2010).

Positivisme Comte menolak setiap pengetahuan yang berlandaskan pemikiran bahwa ada realita lain di luar eksistensi materiil. Positivisme Comte juga berusaha menggambarkan tentang tahapan cara berpikir manusia dalam melihat alam semesta yaitu tingkatan teologi, metafisik, dan tingkatan positif.
a. Tingkatan teologi menggambarkan manusia belum dapat memahami hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian di alam semesta merupakan akibat dari perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah. Fase ini juga terdiri dari tiga tahapan lagi yaitu animisme, politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.
b. Tingkatan metafisik merupakan suatu variasi dari cara berpikir teologis dimana Tuhan diganti dengan kekuatan abstrak misalnya dengan kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai berani dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bencana.
c. Tingkatan positif menggambarkan manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Pada tahapan ini manusia manusia sudah mulai mengandalkan ilmu pengetahuan, sehingga mulai ada pemisahan antara subjek yang mengetahui dengan objek yang diketahui.

Comte menempatkan filsafat positivisme pada tahapan ketiga dimana filsafat ini tidak mendukung hal yang bersifat metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta, gejala, atau fenomena, maka tidak mempunyai arti. Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Upe, A. (2010). Tradisi Aliran dalam Sosiologi: dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar: